Pages

Sabtu, 11 Desember 2010

Fatamorgana Fanatisme

oleh Muhammad Rasyid Ridho pada 10 Desember 2010 jam 17:45


Seorang hamba Tuhan berdiri di tepi jurang kesendirian.Bersahut!

Tuhan, bumi ini berdarah!

Tuhan, bumi ini hancur!

Tuhan, bumi ini terbelah!

Tuhan, bumi in penuh potongan kepala!

Fanatisme bertindak.

Tuhan, kau ekskomunikasikan seseorang.

Tuhan, kau kurung seseorang.

Tuhan, kau buat minoritas.

Tuhan, kau buat sengsara.

Tuhan, kau beri manusia akal.

Fanatisme, kau bertindak

Menghancurkan.

Akal pun lebur.

Tindakan menjadi kacau.

Tiada pemikiran yang dalam.

Wahai, fanatisme.

Apakah engkau ini?

Apakah berupa kekerasan hati?

Apakah berupa pembunuhan ide?

Apakah berupa teriakan dari segala paksaan?

Apakah berupa ketololan yang mengkotak-kotakan umat manusia?

Apakah....

Sudah, cukup!

Terlalu banyak ketukan pertanyaan untukmu, Fanatisme.

Tuhan, mengapa Engkau ciptakan manusia secara berbeda-beda?

Tuhan, mengapa harus berbeda?

Tuhan, bukankah dengan kesamaan mengalirkan keteraturan?

Tuhan, pasti teratur tanpa menghadapi masalah.

Wah, terlalu banyak pertanyaan untuk-Mu, Tuhan.

Apakah pertanyaan hamba-Mu ini tolol?

Tidak patut dijawab.

Tertiup angin ambiguitas...

Tuhan, aku terjebak dalam paradoks!

Sabda Tuhan...

Fanatisme adalah neraka.

Fanatisme adalah ego.

Fanatisme adalah kerikil kehidupan

Jauhi, wahai umat-Ku

Sedangkan perbedaan..

Perbedaan adalah rahmat dari Tuhanmu!

Perbedaan adalah kasih sayang dari Tuhanmu!

Perbedaan adalah hal yang saling melengkapi.

Perbedaan adalah peringatan dari Tuhanmu.

Perbedaan mengingatkanmu untuk sadar akan kefanatismean yang nisbi

Perbedaan bukan bencana yang menyayat sebuah persatuan.

Ketika perbedaan-perbedaan saling mendengar dan analisis dalam,,

Muncullah Persatuan yang hakiki!

Tuhan, hamba tak mengerti dibalik kebijaksanaanmu...

Tapi, sebentar lagi.

Tinggalkan jembatan itu.

Ke jembatan lainnya yang berbeda..

Lagi-lagi berbeda, manatah yang risau dengan kata berbeda?

Syawwal,, Antara Kesyahduan dan Sentimen...

oleh Muhammad Rasyid Ridho pada 10 September 2010 jam 10:10


Semua bermula pada tanggal 1 Ramadhan,,

Kita sebagai umat Muhammad menjalankan suatu pengekangan.

Shalawat dan salam untukmu, ya Rasulullah selalu tercurahkan.

Mengekang nafsu dan kemauan.

Hari-demi hari berjalan,,

Semakin dipenuhi dengan ujian.

Menghadap Ilahku dimalam nan khidmat.

Dihantar pembacaan Qur'an yang agung...

Dimalam terakhir yang ganjil,,

Selagi melakukan shalat nawafil.

Merenungi diri ini yang kecil,,

Begitu banyak rizki yang kau berikan pada hamba-Mu yang hina dina ini.

Sembari membaca ayat-Mu yang Suci,,

"Ni'mat Tuhan Manakah yang Kamu Dustakan!"

Fajar Engkau singsingkan ya Rabb,,

Gema takbir bersahut-sahutan di seluruh penjuru,,

Airmata terkadang menetes sembari bersalaman,,

Hati mengucap syukur kepada Ilahi Rabbi

Ya Allah,, kau sucikan kami dari dosa-dosa di hari ini,,

Semoga kami menjadi hamba-Mu yang selalu bersyukur,,

Tapi,,

Sesuatu telah mengiris hati..

Makar akan Kitab-Mu yang Teramat Suci dan Mulia semakin menjadi...

Akankah Kitab-Mu musnah menjadi Abu di tanggal 2 Syawwal 1431 H/11 September 2010 M?

Hati saudara seiman manakah yang tak miris akan hal ini ?

Na'udzubillahi min dzallik.

Ya Rabb,, hamba-Mu ini hanya bisa berdoa :

Celuplah sebagian dari mereka dengan Sibghat-Mu yang kudus,, serta sampaikan salam Khairatul Ummat padanya"

Perkenankan permohonan kami,, wahai Yang Memiliki Nama-Nama yang Indah dan Agung..."

Cordoba

by Muhammad Rasyid Ridho on Thursday, September 16, 2010 at 10:48pm


Di Cordoba kita bersantai

Menikmati hembusan udara yang sejuk

Bersua bercanda ria

Tawa melepas sendu

Di Cordoba kita menikmati

Kuliner Al-Masyriq

Penuh dengan rempah

Rempah kehangatan yang deras

Di Cordoba kita berjalan

Di sebuah jalan

Jalan para serdadu memanggul pedang

Tanpa baju zirah

Serta kuda-kuda yang menapak

dengan gagah berani

Di Cordoba kita masuk

Ke sebuah bangunan

Megah di masa lalu

Suram di masa sesudahnya

Tempat para pencari-Nya merenung

Di Cordoba kita menyusuri

Puing-puing istana cahaya

Terbakar zaman rupanya

Hanya puing !

Hamba Yang Maha Pengasih meninggalkannya

Tanpa penerus yang bijak.

BIlamanakah akan terulang ?

Hari-hari itu

Pengorbanan

O Cordoba, kita berharap kau kembali