Tahun Baru (Inggris : New Year,
Jerman : Neujahr) adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat di
seluruh dunia. Malam 31 Desember – 1 Januari menjadi momen yang tak terlupakan
bagi semua civitas dunia. Penduduk dari Amerika sampai Asia, penuh antusias
merayakan pergantian tahun, dari tahun sebelumnya ke tahun yang akan datang. Tidak
hanya penduduk negara-negara lain saja yang merayakan, Nusantara juga merayakan
tahun baru.
Pada saat tersebut, penduduk
Indonesia sibuk dengan hiruk-pikuk. Pasar bahkan penuh dan riuh dengan orang. Membeli
jagung dan ikan untuk dibakar, kembang api meletup-letup di udara, konser musik
di ibukota, suara terompet membahana, dan berbagai kegiatan lainnya. Semua
penduduk larut dalam sukacita perayaan tahun baru, baik bersama keluarga
ataupun teman.
Akan tetapi tidakkah kita
memperhatikan dibalik semua keceriaan dalam tahun baru ada sesuatu yang luput.
Bagaimana dengan nasib orang-orang yang secara ekonomi melarat, dibawah garis
kemiskinan. Mungkin beberapa orang mengatakan, dengan adanya tahun baru bisa
menimbulkan banyak usaha-usaha seperti berjual terompet atau mercon. Akan
tetapi, hal-hal tersebut hanya bersifat musiman saja, tidak berkelanjutan untuk
menopang kehidupan mereka.
Masyarakat dengan tenang mengatakan
bahwa “Cuma sekali setahun”. Tidakkah mereka sadari bahwa mereka telah
membakar, membuang, memusnahkan uang dengan sekejap saja dengan membeli petasan
atau mercon. Tidakkah ini merupakan tindakan sia-sia dari masyarakat. Dengan
tahun baru itu sendiri menciptakan budaya konsumerisme, sementara hal tersebut
bertentangan dengan adat kebiasaan bangsa Indonesia.
Jika jumlah uang yang dikumpulkan
untuk membeli mercon dikumpulkan dari seluruh masyarakat, hal tersebut akan
menjadi tumpukan uang dengan jumlah yang sangat banyak. Akan lebih baik jika
uang yang digunakan untuk membeli mercon digunakan untuk sumbangan sosial atau
hal-hal semacamnya, atau jika tidak mau, disimpan atau ditabung saja. Bukankah itu
menjadi hal yang lebih baik daripada pemborosan.
Mungkin apa yang dilakukan Aceh
–tidak merayakan tahun baru- merupakan sesuatu hal yang sangat ekstrim bagi
semua warga Indonesia, yang rata-rata adalah Islam moderat. Tapi setidaknya
dengan merayakan secara sederhana dan penuh makna, seperti berdoa bersama dan
kegiatan amal sosial sudah sangat cukup. Pertanyaan ini patut kita renungkan, lupakah
kita akan empati dan rasio?
0 komentar:
Posting Komentar