Pages

Minggu, 18 Agustus 2013

Refleksi : Merdeka?

Merdeka, Merdeka, Merdeka!

            Kita telah melewati satu hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia, yaitu HUT Kemerdekaan ke-68. Animo bangsa dalam menyambut hari bersejarah ini seperti biasanya penuh antusiasme. Bangsa Indonesia mulai tanggal tersebut, 17 Agustus 1945 harus berdiri pada kakinya sendiri untuk menentukan nasibnya sendiri. Bangsa Indonesia secara hitam di atas putih telah menyambut fase baru untuk menyongsong masa depannya.
            Enam puluh delapan tahun “merdeka” mungkin merupakan waktu yang sangat singkat menurut pandangan negara-negara adikuasa. Akan tetapi, dalam ruang waktu tersebut bangsa Indonesia bisa dikatakan dalam proses mencari makna kemerdekaan yang hakiki, bahkan sampai hari ini.  Ujung pencarian makna tersebut belum bisa diprediksi sampai mana akan berakhir.
            Perjalanan menuju “merdeka” tidaklah semulus kita mendengar kata tersebut. Kemerdekaan dalam mengatur sendiri pemerintahan dan kedaulatannya secara absolut diraih. Akan tetapi, kemerdekaan dalam mengeluarkan pikiran sempat mencicipi “penjara”nya. Sangat mencolok pada zaman Orde Baru, dimana setiap media yang akan mencetak atau menyiarkan segala informasi harus melewati SIUPP. Apabila ada kandungan yang berisi kritik dan berita miring tentang rezim pada masa itu harus dibreidel, bahkan media atau orang yang bersangkutan akan dipenjara. Tidak hanya pada media, menyuarakan pendapat yang oposisi terhadap pemerintah bahkan ditahan.
            Orde Baru runtuh karena mahasiswa dan rakyat bertindak menjatuhkan rezim yang dianggap mengekang. Vox populi, vox dei. Sementara Reformasi bergulir, krisis moneter dan balkanisasi menjadi penyakit yang harus diobati oleh Presiden Habibie. Walau demikian, kebebasan pers mulai dibuka. Orang- orang mulai bersuara tentang aspirasi mereka. Kenyataannya setelah merdeka dalam pemerintahan dan –baru-baru saja– menyuarakan pendapat, diterpa lagi dengan kejatuhan finansial dan regional. Beruntung, Indonesia di tangan Habibie disulap menjadi negara yang lumayan stabil, dengan kurs yang kuat, sekitar Rp 6,500 per 1 US Dollar. Konsekwensinya, kita kehilangan Timor-Timor yang dahulu merupakan bagian dari Nusantara.
            Setelah melewati tersebut, kita juga masih belum bisa dikatakan merdeka. Ekonomi dan sumber daya alam kita dikuasai oleh tangan-tangan asing. Neo-kolonialisme gaya baru diterapkan di bumi pertiwi. Cengkraman Freeport atas Tanah Papua begitu kuat, ditambah perusahaan multinasional seperti Total E&P, Exxon Mobile, dan Royal Shell atas minyak bumi dan gas kita sangat menancap keras. Produk-produk dari Cina membanjiri pangsa pasar karena harga yang sedemikan murahnya dibanding harga yang dihasilkan oleh produsen dalam negeri.
            Gaya hidup kita juga belum “merdeka”. Selalu menganggap diri kita sebagai bangsa yang besar, karena merdeka dengan usaha sendiri. Kenyataan tersebut tidak dibarengi dengan kecintaan produk dalam negeri. Ketimbang menggunakan produk lokal, masyarakat Indonesia umumnya lebih bangga menggunakan produk asing, baik itu fashion maupun otomotif. Perasaan inferior membuat bangsa kita lebih “terjajah” secara psikologis.
            Kemerdekaan? Era kita juga menghadapi “kemerdekaan” koruptor. Banyak sekali kasus suap dan penggelapan yang melibatkan petinggi-petinggi negara. Kasus suap Hakim Agung Achmad Yamanie di Mahkamah Agung, rekening gendut Susnoduadji, dan aliran dana gelap di BJB, dan setumpuk kasus lainnya menjadi “pekerjaan rumah: bagi aparat pemerintahan yang berlaku.
            Penyiksaan TKI di Negeri Jiran, baru-baru ini gencar di media. Seorang TKI asal NTT kabur dari rumah majikannya karena menerima siksaan bertubi-tubi di seluruh badannya. Kasus ini hanyalah satu dari ratusan kasus lainnya yang terselebung maupun tertangkap oleh media. Merdeka kah itu?
            Pada hakikatnya, jalan menuju kemerdekaan hakiki masih panjang. Sebab, kesucian jiwa tiap individu mengawali langkah-langkah panjang kita. Butuh perjuangan yang ikhlas dan contoh yang benar dan tulus dari pemerintah untuk rakyat. Selangkah demi selangkah, setahap demi setahap dengan berkelanjutan.


Les petits ruisseaux font les grandes rivières

0 komentar:

Posting Komentar